Setitik Fatamorgana

Bukankah harapan itu patut ada?
Kata dia, yang datangnya untuk menyentuh.
Namun masih katanya.
Menyeruak masuk ke naluri ku,
Bagianku yang paling cekatan soal lirih.
Soal penerimaan batin,
Soal jawaban bisa iya bisa tidak,
Malangnya, ku mudah dilebur
Menyeruak rasa ku membentur bongkahan ego didada.

Hai,
Aku siap berharap lagi!
Merajut ribuan dari partikel asa yang antah berantah menjadi komplotan harapan.
Penuh harap, hati yang kadang gundah kadang bercita, dan memang itulah manusia.
Mudahnya menanam bibit harapan bahkan ke sesamanya.

Saat ini aku hanya butuh separuh logika untuk setidaknya menganalisa.
Meski hasilnya tak seserius tesis atau prosa apalagi skripsi calon sarjana.
Kupinta hanya separuh logika tuk menuntun ku menuju aturan cinta,
Ya! Aturan cinta yang teranyar dan mampu mendesirkan organ organ didekat dada.

Ku kini hampir dehidrasi.
Dibuai gelora yang tak main main.
Rindu yang berjatuhan kasar bagai hujan yang punya amarah.
Dibuai harapan yang tak pasti pasti.
Namun ada keinginan untuk memiliki yang lebih besar dari semesta.
Pun andai dia mati ku akan ikut pergi, gila namun itulah hasratku.

Tapi asa ini si nomor satu yang membuat lidahku kelu bak terpotong.
Asa ini yang membuat kepercayaan diriku runtuh kotak kotak.
Asa ini yang membuat ku tergelitik, ketika kupu kupu berada memenuhi isi perutku.
Disaat itu pertahananku tak ada, raja dalam diriku goyah, aku tak dapat apa apa.
Mati langkahku.

Namun yang harus kamu tau tidak banyak, cukup satu.
Sejak saat aku terpaut pesonamu, aku tak punya harapan lagi untuk jadi sejenis Kahlil Gibran apalagi Plato.
Karena didetik itu aku tak mampu menitikkan kata apa apa, aku tlah jadi manusia terbasi dimuka bumi.
Ku tak mampu berekspresi, sarafku seperti mati dan tak bisa memahami bait larik puisi.

Komentar