Setitik Fatamorgana
Bukankah harapan itu patut ada? Kata dia, yang datangnya untuk menyentuh. Namun masih katanya. Menyeruak masuk ke naluri ku, Bagianku yang paling cekatan soal lirih. Soal penerimaan batin, Soal jawaban bisa iya bisa tidak, Malangnya, ku mudah dilebur Menyeruak rasa ku membentur bongkahan ego didada. Hai, Aku siap berharap lagi! Merajut ribuan dari partikel asa yang antah berantah menjadi komplotan harapan. Penuh harap, hati yang kadang gundah kadang bercita, dan memang itulah manusia. Mudahnya menanam bibit harapan bahkan ke sesamanya. Saat ini aku hanya butuh separuh logika untuk setidaknya menganalisa. Meski hasilnya tak seserius tesis atau prosa apalagi skripsi calon sarjana. Kupinta hanya separuh logika tuk menuntun ku menuju aturan cinta, Ya! Aturan cinta yang teranyar dan mampu mendesirkan organ organ didekat dada. Ku kini hampir dehidrasi. Dibuai gelora yang tak main main. Rindu yang berjatuhan kasar bagai hujan yang punya amarah. Dibuai harapan yang tak pas...